Jumat, 27 Januari 2017

#24 Ditelepon Bunga




Libur akhir pekan kugunakan untuk istirahat dan menyembuhkan lukaku. Karena tidak bisa berlatih silat maka aku gunakan untuk mempelajari kembali pemahamanku tentang silat dari tulisan-tulisanku sebelumnya serta menambahkan tulisan untuk hal-hal yang baru kupahami. Aku juga mencoba mengingat-ingat dan mencoba menganalisis jurus yang dipakai temannya Agus pada saat duel kemarin. Ketika mengingat-ingat tersebut, entah kenapa aku jadi melamun dan teringat Bunga.
“Arya, ada telepon”, panggil ibu membuyarkan lamunanku. Aku pun menuju ke tempat telepon dan mengambil gagang telepon yang telah diletakkan ibu.
“Hari libur begini kamu tidak main kemana gitu?”, tanya penelepon tersebut tiba-tiba setelah aku bilang halo di telepon. Ternyata yang menelepon adalah Bunga. Dia tahu nomor telepon rumahku ketika menolongku di sirkus.
“Ya nggak lah”, jawabku sambil keheranan bercampur senang.
“Badanku masih terasa sakit jadi aku istirahat aja di rumah”, lanjutku menjelaskan.
“Kasihan deh…”, kata Bunga seakan ngeledek (menggoda/mengejek).
“Ya sudah kalau begitu. Daah…”, kata Bunga mengakhiri pembicaraan.
“Hei…”, belum sempat aku ngomong lebih lanjut telepon sudah terputus.
“Ada apa? Siapa cewek yang menelepon tadi?”, tanya ibu penasaran karena melihatku keheranan.
Aku pun menceritakan dengan singkat bahwa yang menelepon tadi adalah Bunga. Dia yang menolongku sewaktu di sirkus dan menelepon ke rumah, yang ternyata adalah kakak kelas di SMA. Dia yang mengantarku menantang Agus. Dia juga menjadi saksi duelku kemarin. Aku tidak menceritakan tentang bagaimana Bunga menguji (mengetes) keseimbangan tubuhku dan ilmu silatku. Ibu bertanya kenapa Bunga bisa jadi saksi duelku? Aku menjawab bahwa dia sendiri yang ingin ikut. Kemudian aku menceritakan percakapan teleponku tadi ke ibu. Ibu hanya tersenyum.
“Dia sepertinya baik dan perhatian padamu”, kata ibu sambil tersenyum. Aku hanya diam karena kurang paham maksud ibu.
“Dia meneleponmu karena khawatir dan ingin tahu keadaanmu. Tapi dia tidak ingin menunjukkan secara langsung sehingga dia bertanya seperti itu, sekaligus untuk menghiburmu. Makanya ibu bilang dia perhatian padamu”, lanjut ibu menjelaskan.


Rabu, 25 Januari 2017

...1 year after

Tidak terasa sudah berganti tahun.
Tahun lalu update nya sering tertunda karena kesibukan.
Semoga tahun ini lebih lancar.

Rabu, 02 November 2016

#23 Hari-H Pertarungan




Hari itu adalah hari pertarungan yang telah dijanjikan.
Di pagi hari tidak ada latih tanding dengan ayah. Kami hanya berlatih gerakan-gerakan silat untuk menjaga kebugaran tubuh setelah bangun tidur. Ayah menyemangati aku sebelum duelku nanti siang dan berpesan beberapa hal. Ketika istirahat aku di dalam kelas saja menenangkan pikiran dan mental agar nanti bisa fokus dalam pertarungan serta merenungi pesan ayah.
Sepulang sekolah aku tidak langsung berangkat menuju tempat yang ditentukan tetapi menunggu agak sepi dulu. Ketika aku akan berangkat dan sudah berjalan di halaman sekolah, tiba-tiba Bunga datang dan berjalan di sampingku. Tidak seperti Mawar, Bunga bisa mengimbangi kecepatan berjalanku. Kami berangkat bersama ke tempat yang telah ditentukan. Tempat tersebut memang sepi. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang akan melihat kami. Di situ sudah ada Agus dan teman-temannya. Yang paling depan adalah teman Agus yang telah mengalahkanku di sirkus dulu. Sepertinya dia lah pemimpin geng (kelompok) Agus dan teman-temannya tersebut. Dia yang akan melawanku dalam duel kali ini, sebagaimana yang kuharapkan.

Rabu, 26 Oktober 2016

#22 H-1 sebelum Duel




Keesokan harinya ketika berlatih tanding dengan ayah, aku berusaha lebih tepat dalam memperkirakan gerakan ayah. Aku juga berusaha mengkombinasikan beberapa jurus agar lebih sulit diperkirakan oleh ayah. Namun sampai 10 menit lebih aku tetap belum berhasil mengenai ayah. Sedangkan dalam bertahan aku sudah ada peningkatan karena aku terkena serangan ayah dalam waktu yang lebih lama dibanding kemarin walaupun masih kurang dari 10 menit.

Minggu, 18 September 2016

#21 Tantangan 10 menit


(sebelumnya #20)

Keesokan harinya latihan dengan ayah agak berbeda dengan biasanya. Ayah menjelaskan bahwa sebenarnya kemampuan silatku sudah bagus. Latihan setiap hari semenjak liburan kemarin sudah meningkatkan kemampuan silatku secara pesat. Karena aku terlihat khawatir dan meminta latihan khusus untuk menghadapi duel nanti, maka menurut ayah yang masih perlu ditingkatkan adalah mental bertarungku. Selama ini aku hanya berlatih tanding dengan ayah dan ibu untuk memperlancar penguasaan jurus sehingga tidak terlatih mental untuk memenangkan pertarungan. Ayah tidak tahu bahwa aku telah bertarung dengan Bunga dan hampir menang.
Untuk meningkatkan mental bertarungku maka mulai sekarang latihannya berbeda dengan biasanya. Latihannya adalah latih tanding dengan ayah dan berusaha berhasil menyerang ayah dalam waktu kurang dari 10 menit atau berusaha tidak terkena serangan ayah dalam waktu 10 menit. Selama ini aku berlatih tanding melawan ayah belum pernah berhasil mengenai ayah makanya ayah memberikan batasan seperti itu agar aku tertantang dalam bertarung. Selama ini dalam berlatih tanding ayah mengurangi tenaga dan menahan serangan sehingga ketika aku terkena serangan ayah tidak terlalu sakit. Namun sekarang ayah berkata bahwa dia akan menyerang dengan sungguh-sungguh sehingga aku harus benar-benar berusaha agar tidak terkena serangan ayah.

Jumat, 02 September 2016

#20 Permintaan latihan khusus

(sebelumnya #19)


Di rumah aku menceritakan pada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah menantang Agus dan temannya untuk duel dan kami sudah berjanji untuk duel 3 hari lagi sepulang sekolah. Aku meminta pada ayah untuk melatihku secara khusus dalam rangka menghadapi Agus dan temannya, terutama temannya yang mengalahkan aku waktu itu.
Ayah menjelaskan bahwa latihan selama liburan kemarin sudah dipersiapkan untuk menghadapi Agus dan temannya. Ketika latihan aku sudah ditanya Ayah tentang gerakan silat temannya Agus, tetapi aku hanya hanya ingat gerakan terakhir yang membuatku kalah yaitu tusukan ke ulu hati dan tendangan ke kepala. Berdasarkan gerakan itu saja, Ayah tidak bisa memastikan jurus apa yang dipakai temannya Agus. Ayah juga bertanya tentang kuda-kuda (stance) temannya Agus kemudian aku memperagakan kuda-kuda (stance) temannya Agus. Ayah mengatakan bahwa jurus-jurus yang dia ketahui memakai kuda-kuda (stance) seperti itu tidak ada yang mempunyai gerakan menusuk ke ulu hati. Berdasarkan ceritaku, kemungkinan temannya Agus mengubah jurus ditengah pertarungan sehingga kuda-kuda (stance) yang dia tunjukkan di awal pertarungan bukanlah kuda-kuda (stance) dari jurus yang berhasil mengalahkanku. Karena tidak tahu secara pasti jurus yang dipakai temannya Agus jadi latihan selama liburan kemarin tidak memfokuskan pada bagaimana menghadapi jurus lawan tetapi lebih memperkuat dan memperlancar jurus kita sendiri sehingga latihannya tidak jauh berbeda dengan latihan rutin seperti biasanya.

Jumat, 26 Agustus 2016

#19 Melawan Bunga



Hari berikutnya aku tidak lagi berusaha berbicara dengan Mawar. Aku teringat perkataan Ibu waktu itu bahwa pertemananku dengan Mawar akan berbeda walaupun sudah meminta maaf. Karena tidak akan mengembalikan hubungan kami seperti semula dan karena Mawar selalu menghindar makanya kuputuskan tidak perlu memaksakan diri untuk berbicara dengan Mawar. Tinggal masalah dengan Agus.
Setelah tahu dari Andi bahwa Agus adalah kelas 2B maka ketika istirahat aku menuju lantai 2 untuk mencari Agus. Ketika melewati lorong lantai 2, murid-murid kelas 2 memandangiku karena memang jarang ada murid kelas 1 yang naik ke lantai 2. Aku tidak menemukan Agus di dalam maupun di depan ruang kelas 2B. Tiba-tiba ada yang berbicara padaku dari belakang.
“Mencari Agus, ya?”, kata suara cewek dari belakangku yang ternyata adalah Bunga. Aku menoleh.
“Iya”, jawabku singkat.
“Dia tidak di kelas, mungkin di kantin, ayo kuantar”, kata Bunga sambil menarik tanganku. Murid-murid kelas 2 memandangi aku. Aku pun melepaskan tanganku dari pegangan Bunga dan berjalan di samping Bunga.
Di kantin aku melihat Agus duduk semeja dengan Mawar. Mawar duduk disamping temannya dan Agus duduk di hadapannya. Mawar melihatku datang mendekatinya kemudian dia memalingkan wajah dan seperti pura-pura asyik mengobrol dengan Agus.
“Aku sedang ngobrol dengan teman-temanku”, kata Mawar padaku ketika aku sudah sampai di mejanya. Mungkin dia mengira bahwa aku ke kantin untuk berbicara dengannya. Aku tidak menanggapi perkataan Mawar tersebut.
“Agus, aku menantangmu dan temanmu waktu itu untuk duel ulang”, kataku ke Agus.
“Sombong banget, kamu mau dihajar lagi?”, kata Agus sinis kepadaku. Dia melihat ada Bunga di belakangku.