Keesokan
harinya ketika berlatih tanding dengan ayah, aku berusaha lebih tepat dalam
memperkirakan gerakan ayah. Aku juga berusaha mengkombinasikan beberapa jurus
agar lebih sulit diperkirakan oleh ayah. Namun sampai 10 menit lebih aku tetap
belum berhasil mengenai ayah. Sedangkan dalam bertahan aku sudah ada
peningkatan karena aku terkena serangan ayah dalam waktu yang lebih lama
dibanding kemarin walaupun masih kurang dari 10 menit.
Rabu, 26 Oktober 2016
Minggu, 18 September 2016
#21 Tantangan 10 menit
(sebelumnya #20)
Keesokan
harinya latihan dengan ayah agak berbeda dengan
biasanya. Ayah menjelaskan bahwa sebenarnya kemampuan silatku sudah bagus.
Latihan setiap hari semenjak liburan kemarin sudah meningkatkan kemampuan
silatku secara pesat. Karena aku terlihat khawatir dan meminta latihan khusus
untuk menghadapi duel nanti, maka menurut ayah yang masih perlu ditingkatkan
adalah mental bertarungku. Selama ini aku hanya berlatih tanding dengan ayah
dan ibu untuk memperlancar penguasaan jurus sehingga tidak terlatih mental
untuk memenangkan pertarungan. Ayah tidak tahu bahwa aku telah bertarung dengan
Bunga dan hampir menang.
Untuk
meningkatkan mental bertarungku maka mulai sekarang latihannya berbeda dengan
biasanya. Latihannya adalah latih tanding dengan ayah dan berusaha berhasil
menyerang ayah dalam waktu kurang dari 10 menit atau berusaha tidak terkena
serangan ayah dalam waktu 10 menit. Selama ini aku berlatih tanding melawan
ayah belum pernah berhasil mengenai ayah makanya ayah memberikan batasan
seperti itu agar aku tertantang dalam bertarung. Selama ini dalam berlatih
tanding ayah mengurangi tenaga dan menahan serangan sehingga ketika aku terkena
serangan ayah tidak terlalu sakit. Namun sekarang ayah berkata bahwa dia akan
menyerang dengan sungguh-sungguh sehingga aku harus benar-benar berusaha agar
tidak terkena serangan ayah.
Jumat, 02 September 2016
#20 Permintaan latihan khusus
(sebelumnya #19)
Di rumah aku
menceritakan pada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah menantang Agus dan temannya
untuk duel dan kami sudah berjanji untuk duel 3 hari lagi sepulang sekolah. Aku
meminta pada ayah untuk melatihku secara khusus dalam rangka menghadapi Agus
dan temannya, terutama temannya yang mengalahkan aku waktu itu.
Ayah
menjelaskan bahwa latihan selama liburan kemarin sudah dipersiapkan untuk
menghadapi Agus dan temannya. Ketika latihan aku sudah ditanya Ayah tentang
gerakan silat temannya Agus, tetapi aku hanya hanya ingat gerakan terakhir yang
membuatku kalah yaitu tusukan ke ulu hati dan tendangan ke kepala. Berdasarkan
gerakan itu saja, Ayah tidak bisa memastikan jurus apa yang dipakai temannya
Agus. Ayah juga bertanya tentang kuda-kuda (stance)
temannya Agus kemudian aku memperagakan kuda-kuda (stance) temannya Agus. Ayah mengatakan bahwa jurus-jurus yang dia
ketahui memakai kuda-kuda (stance)
seperti itu tidak ada yang mempunyai gerakan menusuk ke ulu hati. Berdasarkan
ceritaku, kemungkinan temannya Agus mengubah jurus ditengah pertarungan
sehingga kuda-kuda (stance) yang dia
tunjukkan di awal pertarungan bukanlah kuda-kuda (stance) dari jurus yang berhasil mengalahkanku. Karena tidak tahu
secara pasti jurus yang dipakai temannya Agus jadi latihan selama liburan
kemarin tidak memfokuskan pada bagaimana menghadapi jurus lawan tetapi lebih
memperkuat dan memperlancar jurus kita sendiri sehingga latihannya tidak jauh
berbeda dengan latihan rutin seperti biasanya.
Jumat, 26 Agustus 2016
#19 Melawan Bunga
Hari berikutnya
aku tidak lagi berusaha berbicara dengan Mawar. Aku teringat perkataan Ibu
waktu itu bahwa pertemananku dengan Mawar akan berbeda walaupun sudah meminta
maaf. Karena tidak akan mengembalikan hubungan kami seperti semula dan karena
Mawar selalu menghindar makanya kuputuskan tidak perlu memaksakan diri untuk
berbicara dengan Mawar. Tinggal masalah dengan Agus.
Setelah tahu
dari Andi bahwa Agus adalah kelas 2B maka ketika istirahat aku menuju lantai 2
untuk mencari Agus. Ketika melewati lorong lantai 2, murid-murid kelas 2
memandangiku karena memang jarang ada murid kelas 1 yang naik ke lantai 2. Aku
tidak menemukan Agus di dalam maupun di depan ruang kelas 2B. Tiba-tiba ada
yang berbicara padaku dari belakang.
“Mencari Agus,
ya?”, kata suara cewek dari belakangku yang ternyata adalah Bunga. Aku menoleh.
“Iya”, jawabku
singkat.
“Dia tidak di
kelas, mungkin di kantin, ayo kuantar”, kata Bunga sambil menarik tanganku. Murid-murid
kelas 2 memandangi aku. Aku pun melepaskan tanganku dari pegangan Bunga dan berjalan
di samping Bunga.
Di kantin aku
melihat Agus duduk semeja dengan Mawar. Mawar duduk disamping temannya dan Agus
duduk di hadapannya. Mawar melihatku datang mendekatinya kemudian dia
memalingkan wajah dan seperti pura-pura asyik mengobrol dengan Agus.
“Aku sedang
ngobrol dengan teman-temanku”, kata Mawar padaku ketika aku sudah sampai di
mejanya. Mungkin dia mengira bahwa aku ke kantin untuk berbicara dengannya. Aku
tidak menanggapi perkataan Mawar tersebut.
“Agus, aku
menantangmu dan temanmu waktu itu untuk duel ulang”, kataku ke Agus.
“Sombong
banget, kamu mau dihajar lagi?”, kata Agus sinis kepadaku. Dia melihat ada
Bunga di belakangku.
Jumat, 19 Agustus 2016
#18 Bertemu Bunga
(sebelumnya #17)
Hari itu hari
pertama masuk sekolah setelah liburan semesteran.
Berangkat dari
rumah aku sudah punya rencana bahwa aku akan menemui Mawar untuk meminta maaf
dan akan menemui Agus untuk menanyakan tentang temannya. Tapi ternyata hari itu
tidak berjalan sesuai dengan rencanaku.
Pagi itu
sesampainya di kelas banyak murid-murid lain yang sudah datang. Mereka mengobrol
(berbincang-bincang) satu sama lain kelihatan gembira mungkin karena baru
bertemu setelah selama liburan tidak ketemu. Andi juga sudah datang dan
kelihatan sedang mengobrol (berbincang-bincang) dengan beberapa teman di
mejanya. Aku bingung mau duduk dimana karena kursi yang semeja dengan Andi
sudah ada yang duduk.
“Ya, duduk
sini”, panggil Andi yang sepertinya tahu bahwa aku bingung. Teman yang sedang
duduk disamping Andi berdiri dan mempersilakan aku duduk. Ternyata dia duduk di
tempat lain. Dia duduk di kursi tersebut hanya karena sedang mengobrol
(berbincang-bincang) dengan Andi. Aku mengucapkan terima kasih dan menaruh
tasku di kursi tersebut tapi aku tidak langsung duduk. Aku melihat ke
sekeliling ruang kelas mencari Mawar. Terlihat Mawar sedang mengobrol
(berbincang-bincang) dengan temannya. Akupun menghampirinya.
“Mawar, aku mau
berbicara denganmu”, kataku.
Rabu, 10 Agustus 2016
#17 Memahami ilmu silat
(sebelumnya #16)
Hari berikutnya
badanku sudah terasa agak enak, sudah berkurang rasa sakitnya. Seperti
biasanya, di pagi hari setelah bangun tidur aku berlatih silat (beladiri)
dengan ayah. Kami sudah biasa melakukan latihan di pagi hari seperti ini sejak
dulu, sejak aku masih kecil. Selama ini aku menganggap latihan ini sebagai
latihan olahraga rutin harian agar tubuh tetap sehat. Aku sudah tahu bahwa
gerakan-gerakan yang kulatih setiap hari tersebut adalah gerakan-gerakan silat
(beladiri) tapi selama ini pemahamanku adalah bahwa silat (beladiri) hanyalah
olahraga. Aku yang bersifat kritis pernah menanyakan kenapa setiap hari
olahraganya harus ada gerakan-gerakan silat (beladiri), kenapa tidak cukup
dengan lari, push-up dan
gerakan-gerakan olahraga pada umumnya seperti senam. Jawaban ayah dan ibu saat
itu adalah bahwa agar tubuh kita terlatih untuk bergerak dan agar gerakannya lebih
beragam. Selain itu dengan belajar gerakan-gerakan silat (beladiri), suatu saat
akan berguna bagiku untuk membela diri. Tetapi ayah dan ibu selalu
memperingatkan aku bahwa aku tidak boleh berkelahi dan tidak boleh menggunakan
gerakan-gerakan silat (beladiri) yang kupelajari untuk berkelahi atau menyakiti
orang lain. Aku menerima penjelasan ayah dan ibu saat itu sehingga selama ini
aku berlatih silat (beladiri) tanpa banyak pertanyaan dan menerima saja apa
yang diajarkan ayah dan ibu. Namun sekarang ketika aku sudah memahami bahwa
silat (beladiri) adalah lebih dari sekedar olahraga beladiri, aku menjadi
bersemangat untuk berlatih seakan-akan aku menemukan hal baru untuk dipelajari,
seperti ketika aku bersemangat untuk belajar bola basket.
Ayah juga kelihatan
lebih bersemangat. Selama ini biasanya ayah hanya mengajariku dan menyuruhku
melakukan gerakan-gerakan silat (beladiri) untuk diulang-ulang dan dihafalkan
tanpa menjelaskan tentang gerakan-gerakan tersebut. Sekarang ayah tidak hanya
menjelaskan gerakan-gerakan silat (beladiri) tapi juga mengajari hal-hal lain
terkait silat (beladiri). Mungkin karena kemarin ayah dan ibu sudah memutuskan
bahwa aku sudah siap untuk memahami silat (beladiri) dan sudah berjanji
mengajari banyak hal tentang silat (beladiri) secara bertahap.
Pagi itu ayah
menjelaskan kepadaku dari awal tentang ilmu silat (beladiri). Ilmu silat
(beladiri) adalah kemampuan untuk bertarung mengalahkan lawan. Pertarungan
mengalahkan lawan berarti beradu kemampuan tubuh untuk menentukan tubuh siapa
yang rusak lebih dahulu. Oleh karena itu langkah awal belajar silat (beladiri)
adalah melatih kemampuan tubuh.
Rabu, 03 Agustus 2016
#16 Apa itu Duel?
(sebelumnya #15)
Aku terbangun.
Kulihat ke sekelilingku mencoba mengetahui aku ada dimana. Ternyata aku
terbaring di dalam sebuah tenda yang sepertinya kamar salah seorang pekerja
sirkus keliling. Kepalaku masih terasa sakit. Ulu hatiku juga masih terasa
sakit.
“Syukurlah kamu
sudah siuman”, kata seorang cewek (pemudi) yang duduk di sampingku.
“Rumahmu dimana,
Dik? Atau nomor teleponmu berapa? Biar kuhubungi keluargamu”, kata seorang pria
(laki-laki) yang sepertinya pemilik kamar yang kupakai tersebut.
Akupun
menyebutkan nomor telepon rumahku.
“Biar saya yang
menelepon ke rumahnya dari telepon umum Pak, sekalian pamit mau pulang karena
sudah malam. Terima kasih atas bantuannya Pak”, kata cewek tersebut sambil
melangkah akan keluar ruangan.
“Tunggu...kamu
siapa?”, tanyaku penasaran dengan suara pelan karena masih lemas.
“Tenang saja,
kita masih akan bertemu lagi”, jawabnya sambil tersenyum kemudian keluar
meninggalkan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)