Di rumah aku
menceritakan pada Ayah dan Ibu bahwa aku sudah menantang Agus dan temannya
untuk duel dan kami sudah berjanji untuk duel 3 hari lagi sepulang sekolah. Aku
meminta pada ayah untuk melatihku secara khusus dalam rangka menghadapi Agus
dan temannya, terutama temannya yang mengalahkan aku waktu itu.
Ayah
menjelaskan bahwa latihan selama liburan kemarin sudah dipersiapkan untuk
menghadapi Agus dan temannya. Ketika latihan aku sudah ditanya Ayah tentang
gerakan silat temannya Agus, tetapi aku hanya hanya ingat gerakan terakhir yang
membuatku kalah yaitu tusukan ke ulu hati dan tendangan ke kepala. Berdasarkan
gerakan itu saja, Ayah tidak bisa memastikan jurus apa yang dipakai temannya
Agus. Ayah juga bertanya tentang kuda-kuda (stance)
temannya Agus kemudian aku memperagakan kuda-kuda (stance) temannya Agus. Ayah mengatakan bahwa jurus-jurus yang dia
ketahui memakai kuda-kuda (stance)
seperti itu tidak ada yang mempunyai gerakan menusuk ke ulu hati. Berdasarkan
ceritaku, kemungkinan temannya Agus mengubah jurus ditengah pertarungan
sehingga kuda-kuda (stance) yang dia
tunjukkan di awal pertarungan bukanlah kuda-kuda (stance) dari jurus yang berhasil mengalahkanku. Karena tidak tahu
secara pasti jurus yang dipakai temannya Agus jadi latihan selama liburan
kemarin tidak memfokuskan pada bagaimana menghadapi jurus lawan tetapi lebih
memperkuat dan memperlancar jurus kita sendiri sehingga latihannya tidak jauh
berbeda dengan latihan rutin seperti biasanya.